Minggu, 19 Maret 2017

Makan-makan di Batu Malang, Hotel Purnama, dan Epilog

Hidangan disini mengingatkan saya pada masakan ibunda”

Bondan Winarno, Warung Bethania, Batu, Malang

Harnaz ini gimana, kok ngoceh soal jalan-jalan tanpa ada makan-makannya. Tenang, saya sengaja simpan di bagian terakhir karena ini bulan puasa, supaya bisa dipost sesudah berbuka. Tentu saja kami mampir ke beberapa tempat makan yang patut dicatat, walaupun tidak nggragas seperti tur JS pada umumnya karena ini acara tur keluarga :).

Kunjungan pertama adalah RM Inggil Malang (Jl. Gajah Mada No. 4, 0341-332110) yang direkomendasikan oleh pengemudi kami. Ini standar turis, nampak beberapa turis asing sedang makan. Interiornya unik, dengan berbagai pernak-pernik jadul seperti kaset lagu lama (mungkin oom dan tante ada yang pernah mendengarkan kaset?), telepon putar, dan perangko. Di latar belakang terdapat panggung ludruk keliling, lengkap dengan gamelan. Rasa makanannya lumayan saja, dengan kesempatan mencicipi mendol (tempe khas Malang). Boleh dicicipi jika ingin tempat luas dan unik, tetapi rasanya banyak tempat makan lain yang lebih menarik di Malang.

Nah, yang kedua ini lokasinya sudah di Batu, yakni Warung Mbok Sri (dahulu Warung Wareg, Jl. Raya Beji Kota Wisata Batu No. 105, Junrejo). Ini dia! Tempatnya sederhana namun bersih, terbuka dengan kesejukan hawa Batu. Sajian utamanya: ikan gurame! Ada gurame goreng crispy yang kemeriuk mak nyus, ada gurame cobek super pedas, ada juga Gurami Ndoweh yang ternyata hadir dengan sedikit kuah yang pedas, mirip pesmol tetapi encer kuahnya. Pelayanannya cepat, rasanya pun mak nyus! Rata-rata harganya ikan gurame sekitar Rp 55.000,-. Kami sampai dua kali kesini!

Ketiga, tentu saja ada Warung Bethania (Jl. Diponegoro No 103, Batu – 0341 591158) – kunjungan wajib di Batu. Restoran ini cukup mengejutkan: luarnya kecil, namanya warung, tetapi dalamnya wuih! Interiornya dari kayu-kayu elegan, bak cafe remang-remang tempat nembak dan ditolak! Di dinding bertebaran foto-foto orang ternama yang makan disana. Interior yang sangat syahdu membuat kami mendadak berbisik-bisik! Dan foto Pak Bondan tentu saja dipajang paling depan…

Sebenarnya menu disini beda tipis dengan Warung Mbok Sri – gurame goreng garing juga. Tapi disini bumbunya beda… memang mak nyus! Kami memesan ayam goreng yang juga gurih dan enak, serta tahu telor yang memang juara. Ada sayur asem, ada lodeh, dan aneka sambal termasuk sambal pencit (mangga muda) yang asam pedas nikmat. Walaupun guramenya disini lebih mahal, Rp 67.500,-, tetapi layak dicoba. Sedap mantap!

Ketika di Malang, maklum pang-enam adalah penggemar bakso, maka kami mampir ke Bakso President. Itu lho, warung bakso yang posisinya persis di pinggir rel kereta api! Ajegile, karena parkirnya disisi sebrang rel, kami sekeluarga besar longok kanan-kiri sambil melangkah melalui rel untuk makan di President. Menunya ada bakso bakar, ada bakso, siomay goreng, dan tahu seperti biasa bakso malang. Baksonya kira-kira Rp 9.000,-. Yang disebut ‘bakso bakar’ adalah sate bakso yang hitam disiram kecap! Intinya, bolehlah makan bakso malang di Malang. Kuahnya kualitasnya baik, tidak terlalu micini. Rasanya lumayan, apalagi ditambah sensasi gempa ketika kereta lewat. Nikmati sekarang sebelum digusur Pak Jonan! Hehehe…

Lalu terakhir, kunjungan wajib ke Bakmi Gang Jangkrik (Jl. Letjen Sutoyo 136 – 0341 480431). Kesukaan saya disini (non-halal) adalah cwie mie iga babi goreng tepung. Irisan daging iga babi yang digoreng katsu, sebagai pelengkap bakmi dengan tekstur cantik. Ketika kerabat kami memesan nasi goreng bacon, rasanya juga tidak mengecewakan! Harga per porsi cukup mahal karena ini adalah restoran yang lumayan wah, tapi masih sangat bersahabat dibanding Jakarta (kisaran Rp 30.000,- per porsi).

Satu lagi: hotelnya! Kami menginap di Hotel Purnama, berpangkat jenderal (bintang empat) dengan bandrol kira-kira Rp 700.000,- semalam. Sebuah hotel yang terawat bersih, dengan restoran yang amat cantik menawarkan pemandangan cantik di sekitarnya. Servisnya cukup baik, dan berjalan-jalan di tamannya yang terawat rapi adalah terapi terbaik bagi yang patah hati! Recommended jika Anda mampir di Batu.

[EPILOG] Mau Membangun Pariwisata? Belajarlah dari Batu!

Saya ingat ketika banyak orang nyerocos di TV soal bagaimana mengembangkan kawasan Taman Nasional Komodo. Bapak-bapak berjas gendut dengan lantang ngoceh kanan kiri, dalam hati saya ingin bertanya satu pertanyaan saja: Pak, sudah pernah kesana? Kalau belum, kesana dulu, baru ngomong!

Di saat dimana pemerintah sedang berusaha membenahi pariwisata, dari mulai mengubah alokasi anggaran sampai menentukan tujuan wisata baru, saya berharap ada yang studi banding ke Batu, jangan ke California. Mengapa? Batu sudah sukses ‘menciptakan’ objek wisata! Indonesia kan indah, ngapain ‘menciptakan’ objek wisata?

Ingat, bahwa dari 50 tujuan wisata terpopuler dunia menurut Daily Mail (http://www.dailymail.co.uk/travel/article-2598724/The-50-visited-tourist-attractions-world-revealed.html), dari top 5, hanya 1 yang alami: air terjun niagara! Yang nomor 1 – Las Vegas Strip (hampir 40 juta turis pertahun) – adalah hasil sulapan dari gurun pasir tak berpenghuni!

Jadi kalau Indonesia mau menaikkan kunjungan wisata internasional, belajarlah dari Batu! Bagaimana menyediakan toilet yang bersih dan banyak, kursi roda, baby chair, mengatur kebersihan, membuat atraksi menarik, dan lain sebagainya. Buatlah Batu-Batu yang lain, niscaya pariwisata kita akan semakin maju
Sumber: www.menikmatiindonesia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar